Sabtu, 17 Agustus 2013
Perbedaan Antara Model ROPERS dan Model Satuan Pelajaran
Perbedaan dari kedua model ini yaitu pada model ROPERS itu tidak mengkategorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana semester, mingguan, dan harian. Akan tetapi di katekorikan menjadi rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar sedangkang model satuan pelajatan itu proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaanya mencapai hasil yang diharapkan.
Model Pembelajaran Satuan Pelajaran
1. Pengertian Model Satuan Pelajaran
Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaanya mencapai hasil yang diharapkan. Langkah-langkah tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk perencanaan mengajar. Proses penyusunan perencanaan pengajaran memerlukan pemikiran-pemikiran sistematis untuk memproyeksikan/memperkirakan mengenai apa yang akan dilakukan dalam waktu melaksanakan pengajaran.
Rencana mengajar atau persiapan mengajar atau lebih dikenal dengan satuan pelajaran adalah program kegiatan belajar mengajar dalam satuan terkecil (Sudjana, 2002: 137). Hal senada juga dikemukakan oleh Syaodih, (1988:218) bahwa guru mengembangkan perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, satu minggu, atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun dan semester disebut sebagai program unit, sedangkan untuk beberapa jam pelajaran disebut program satuan pelajaran, yang dalam implementasi kurikulum 2004 memiliki komponen kompetensi dasar, materi standar, prosedur pembelajaran/pengalaman belajar, metode dan evaluasi berbasis kelas, serta bahan/alat yang digunakan.
2. Tujuan Model Satuan Pelajaran
Dalam model ini mempunyai tujuan agar guru dapat menjalankan proses pembelajaran yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, secara sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran adalah sebagai berikut:
a. Identitas mata pelajaran (nama pelajaran, kelas, semester, dan waktu atau banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
b. Kompetensi dasar dan indicator yang hendak dicapai atau dijadikan tujuan dapat dikutip/diambil dari kurikulum dan hasil belajar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
c. Materi pokok (beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar).
d. Media (yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran).
e. Strategi pembelajaran/scenario/tahapan-tahapan proses belajar mengajar yaitu
kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi.
3. Sintak Model Satuan Pelajaran
Tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran meliputi :
1) Kegiatan awal
Kegiatan pendahuluan dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai siswa berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.
Kegiatan pendahuluan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain:
a) Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan awal yang dimiliki siswa. Seorang guru perlu menghubungkan materi pelajaran yang telah dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari siswa dan tidak mengesampingkan motivasi belajar terhadap siswa.
b) Menciptakan kondisi awal pembelajaran melalui upaya:
- Menciptakan semangat dan kesiapan belajar melalui bimbingan guru kepada siswa.
- Menciptakan suasana pembelajaran demokratis dalam belajar, melalui cara dan teknik yang digunakan guru dalam mendorong siswa untuk berkreatif dalam belajar dan mengembangkan keunggulan yang dimilikinya.
2) Kegiatan inti
Kegiatan inti adalah kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan. Kegiatan inti setidaknya mencakup: 1) penyampaian tujuan pembelajaran; 2) penyampaian materi/bahan ajar dengan menggunakan: pendekatan dan metode, sarana dan alat/media yang sesuai dll.; 3) pemberian bimbingan bagi pemahaman siswa; 4) melakukan pemeriksaan/pengecekan tentang pemahaman siswa.
Dalam langkah ini, siswa dikelompokkan menjadi tiga kelompok pembelajaran, yaitu:
v Pembelajaran klasikal yang digunakan apabila materi pembelajaran lebih bersifat fakta, atau formatif terutama ditujukan untuk memberikan informasi atau sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Sehingga cenderung metode ceramah dan Tanya jawab akan banyak digunakan.
v Pembelajaran kelompok digunakan apabila materi pembelajarannya lebihmengembangkan konsep/sub-pokok bahasan yang sekaligus mengembangkan aktivitas social, sikap, nilai, kerjasama, dan aktivitas dalam pemecahan masalah melalui kelompok belajar siswa. Kegiatan guru akan lebih banyak mengawasi dan memantau kelompok belajar, sehingga setiap siswa dalam kelompok turut berpartisipasi.
v Kegiatan belajar individual, artinya setiap anak yang belajar di kelas mengerjakan atau melakukan kegiatan belajar masing-masing. Kegiatan belajar tersebut mungkin sama untuk setiap siswa, mungkin pula berbeda. Dalam pembelajaran individual ini setiap siswa dituntut untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Implikasi dari pembelajaran individual ini, guru harus banyak memberikan perhatian dan pelayanan secara individual, sebab setiap individu berbeda kemampuannya. Kegiatan pembelajaran individual pun dapat digunakan apabila ingin membantu proses belajar mengajar yang mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu untuk melaksanakan kegiatan pengayaan dan perbaikan hasil proses belajar mengajar.
3) Penutup
Kegiatan penutup ini adalah kegiatan yang memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Kesimpulan ini dibuat oleh guru dan atau bersama-sama dengan siswa. Kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut ini adalah:
§ Melaksanakan penilaian akhir dan mengkaji hasil penilaian
§ Melaksanakan kegiatan tindak lanjut dengan alternative kegiatan di antaranya: memberikan tugas atau latihan-latihan, menugaskan mempelajari materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi/bimbingan belajar.
§ Mengakhiri proses-proses pembelajaran dengan menjelaskan atau memberi tahu materi pokok yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.
f. Menentukan jenis penilaian dan tindak lanjut. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan alternative tindakan yang akan dilakukan. Beragam jenis penilaian yang dapat digunakan misalnya tes tulis, kinerja, produk, proyek/penguasaan dan lain sebagainya tergantung dari aspek apa yang hendak diukur. Teknik penyampaiannya dapat diajukan kepada siswa baik secara lisan maupun tertulis.
g. Sumber bahan (yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai dicantumkan).
4. Kelemahan Model Satuan pelajaran
Dalam model ini memiliki kelemahan yaitu dalam penilaian itu harus sampai semua mata pelajaran itu selesai barulah mengadakan evaluasi akhir.
Persiapan Mengajar bagi para tenaga pendidik
Oleh : Dadan Wahidin
Persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi. Dalam mengembangan persiapan mengajar, terlebih dahulu harus menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar. Kemampuan membuat persiapan mengajar merupakan langkah awal yang harus dimiliki guru dan sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pembelajaran.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan dikuasai peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, diantaranya :
Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.
Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.
E. Mulyasa (2003) menyebutkan bahwa guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik, logis dan sistematis, karena disamping untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran, persiapan mengajar merupakan bentuk dari “profesional accoutability”. Dengan mengutip pemikiran Cythia, E. Mulyasa (2003) mengemukakan bahwa persiapan mengajar akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Sebaliknya, dengan mengutip dari Joseph dan Leonard, dikemukakan bahwa : “ teaching without adequate written planning is sloppy and almost always ineffective, because the teacher has not thought out exactly what to do and how to do it.”
PENGEMBANGAN PERSIAPAN MENGAJAR
PENGERTIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran.
Perencanaan merupakan suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tesebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.
Secara umum pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sedangkan definisi utuh mengenai perencanaan pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan.
Perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai.
Perencanaan pembelajaran mengandung komponen-komponen yang ditata secara sistematis dimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.
B. KOMPONEN – KOMPONEN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Rencana pembelajaran yang baik menurut Gagne dan Briggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang di sebut anchor point, yaitu: 1) tujuan pengajaran; 2) materi pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar; dan 3) evaluasi keberhasilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kenneth D.Moore ( 2001:126 ) bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi komponen:
1. Tujuan
2. Materi
3. Kegiatan belajar mengajar
4. Media dan sumber belajar
5. Evaluasi
1) Tujuan
Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan pembelajaran. Tidak ada suatu pembelajaran yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu merupakan suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan arah, target akhir dan prosedur yang dilakukan.
Tujuan mempunyai jenjang dari yang luas atau umum sampai kepada yang sempit/khusus. Semua tujuan itu berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dan tujuan di atasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya tidak tercapai pula. Hal ini disebabkan pula tujuan itu beriktnya merupakan turunan dari tujuan sebelumnya. Oleh karena iu, aspek tujuan pembelajaran merupakan yang paling utama, yang harus di rumuskan secara jelas dan spesifik karena menentukan arah.
Tujuan-tujuan pembelajaran harus berpusat pada perubahan perilaku siswa yang di inginkan, dan karenanya harus di rumuskan secara operasional, dapat diukur dan dapat diamati ketercapaiannya.
Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
2) Materi
Materi pelajaran merupakan unsure belajar yang penting mendapam tperhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang” dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, dalam hal ini adalah hasil-hasil yang diharapakan misalnya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman lainnya.
Materi pelajaran yang diterima siswa harus mampu merespons setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat, teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan “jika..maka….”, misalnya “Jika logam dipanasi maka akan memuai”, rumus menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskup, cara menyetel televisi. Materi jenis sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar, semangat bekerja, dsb.
Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi pembelajaran aspek kognitif tersebut, perhatikan tabel di bawah ini.
Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar.
3) Kegiatan belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan siswa terlibat dalam sebuah interaksi dalam materi pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu siswalah yang lebih aktif bukan guru. keaktifan siswa tentu mencakup kegiatan fisik dan mental, individual dan kelompok. Oleh karena itu interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, siswa dengan materi pelajaran dan media pembelajaran, bahkan siswa dengan dirinya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan bersama.
Agar memperoleh hasil optimal, sebaiknya guru memperhatikan perbedaan individual siswa, baik aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Ketiga aspek ini diharapkan memberikan informasi kepada guru, bahwa setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal, sekalipun dalam tempo yang berlainan.
Guru harus mampu membangun suasana belajar yang kondusif sehingga siswa mampu belajar mandiri. Guru juga harus mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai salah satu sumber yang penting dalam kegiatan eksplorasi.
4) Media dan sumber belajar
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Media menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Sedangkan gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber balajar yang ada.
Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan teus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.
Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dawyer (1967) berpendapat bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika menggunakan bahan-bahan audio visual yang mendekati realitas.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana materi pelajaran terdapat. Menurut Nasution (2000) sumber belajar dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan siswa. Pemanfaantan sumber-sumber belajar tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Roestiyah N.K. (1989) mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah:
Manusia (dalam keluarga, sekolah dan masyarakat);
Buku/perpustakaan;
Media massa(majalah, surat kabar, radio, tv dan lain-lain);
Lingkungan alam, social dan lain-lain;
Alat pelajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol dan lain-lain);
Museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno).
5) Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Metode belajar yang mampu membangkitkan motif, minat atau gairah belajar murid dan menjamin perkembangan kegiatan kepribadian murid adalah metode diskusi.
Metode diskusi merupakan suatu cara mengajar yang bercirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pertanyaan atau problem. Di mana para anggota diskusi dengan jujur berusaha mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Dalam metode diskusi guru dapat membimbing dan mendidik siswa untuk hidup dalam suasana yang penuh tanggung jawab, msetiap orang yang berbicara atau mengemukakan pendapat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang dapat diperanggung-jawabkan. Jadi bukan omong kosong, juga bukan untuk menghasut atau mengacau suasana. Menghormati pendapat orang lain, menerima pendapat yang enar dan menolak pendapatb yang salah adalah ciri dari metode yang dapat dighunakan untuk mendidik siswa berjiwa demokrasi dan melatih kemampuan berbicara siswa.
Agar suasana belajar siswa aktif dapat tercapai, maka diskusi dapat menggunakan variasi model-model pembelajaran menarik dan memotivasi siswa. Dari sekan banyak model pembelajaran yang ada, model pembelajaran Zigsaw cocok untuk digunakan dalam metode diskusi. Model pembelajaran Zigsaw membantu murid untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus siswa mampu menjadi nara sumber bagi satu sama yang lain.
Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang baik belum tentu memberikan hasil yang baik tanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad).
Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
6) Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menetukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan criteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan.
Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, yaitu:
Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi. Membahas tentang evaluasi berarti mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Poses tersebut tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan prinsip serta dilakukan secara terus menerus.
Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti. S. Hamid Hasan (1988) secara tegas membedakan kedua istilah tersebut sebagai berikut:
Pemberian nilai dilakukan apabila seorang evaluator memberikan pertimbangannya mengenai evaluan tanpa menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat dari luar. Jadi, pertimbangan yang diberikan sepenuhnya berdasarkan apa evaluan itu sendiri…. Sedangkan arti, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan dalam suatu konteks tertentu…. Tentun saja kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang meliputi baik proses pemberian keputusan tentang nilai dan proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputi keduanya.
Pemberian nilai dan arti ini dalam bahasa yang dipergunakan Scriven (1967) adalah formatif dan sumatif. Jika formatif dan sumatif merupakan fungsi evaluasi, maka nilai dan arti adalah hasil kegiatan yang dilakukan oleh evalusi.
Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement). Pemberian pertimbangna ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti/ makna (worth and merit) dari sesuatu yang sedang di evaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.
Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan criteria tertentu. Tanpa criteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi.
Evaluasi menurut Wand dan Brown (dalam Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, 2007), evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Rumusan yang bersifat operasional di kemukakan Roestyah (1989) bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya mengenai kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa guna mendorong atau mengembangkan kemampuan belajar.
Aspek evaluasi merupakan aspek yang penting, yang berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan belajar siswa, dan bagaimana tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Apakah tujuan yang telah dirumuskan dapat di capai atau tidak, apakah materi yang telah diberikan dapat dikuasai atau tidak, dan apakah penggunaan metode dan alat pembelajaran tepat atau tidak.
Guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan menetapkan standar keberhasilan. Sebagai contoh, jika semua siswa sudah menguasai suatu kompetensi dasar, maka pelajaran dapat dilanjutkan dengan materi berikutnya, dengan catatan guru memberikan perbaikan (remidial) kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan, dan pengayaan bagi yang sudah. Evaluasi terhadap hasil belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi dasar, materi, atau indicator yang belum mencapai ketuntasan. Dengan mengevaluasi hasil belajar, guru akan mendapatkan manfaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang tepat. Jika ditemukan sebagian siswa gagal, perlu dikaji kembali apakah instrument penilaiannya terlalu sulit, apakah instrument penilaiannya sudah sesuai dengan indikatornya, ataukah cara pembelajarannya (metode, media, teknik) yang digunakan kurang tepat.
C. Model persiapan mengajar (ROPES dan Satpel)
a) Model Pembelajaran ROPERS
1. Pengertian model pembelajaran ROPERS
Hunt tidak mengkategorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana semester, mingguan, dan harian. Akan tetapi Hunts menyebutnya rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar yang disebutnya ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise, Summary) (Anonim).
2. Tujuan model pembelajaran ROPERS
Tujuan dari model ini agar guru itu membuat rencana pengajaran yang terstruktur dan prosedur yang sesuai sehingga siswa itu belajarnya secara bertahap (Anonim).
3. Sintak model pembelajaran ROPERS
Langkah-langkah ROPES ini sebagai berikut:
1. Review, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mencoba mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari bahan ajar dengan melihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite untuk memahami bahan yang disampaikan hari itu. Hal ini diperlukan dengan didasarkan atas:
a. Guru bias memulai pelajaran, jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru sudah mulai tumbuh.
b. Guru hendak memulai pelajaran, jika interaksi antara guru dengan siswa sudah mulai terbentuk
c. Guru dapat memulai pembelajaran jika siswa-siswa sudah memahami hubungan bahan ajar sebelumnya dengan bahan ajar baru yang dipelajari hari tu.
d. Guru harus yakin dan tahu betul jika siswa sudah siap menerima pelajaran baru. Jika siswa belum menguasai pelajaran sebelumnya, maka guru harus dengan bijak memberi kesempatan kepada siswa untuk memahaminyaterlebih dahulu atau mencerahkan melalui pemberian tugas, penjelasan, bimbingan, tutor sebaya, dan baru bergerak pada materi sebelumnya. Apabila terjadi akumulasi bahan ajar yang tertunda, maka harus dicarikan waktu tambahan, karena lebih baik menunda bahan ajar baru daripada menumpuk ketidakpahaman siswa.
2. Overview, sebagaimana review, overview dilakukan tidak terlalu lama berkisar antara 2 sampai 5 menit. Guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pandangannya atas langkah-langkah pembelajaran yang hendak ditempuh oleh guru sehingga berlangsungnya proses pembelajaran bukan hanya milik guru semata, akan tetapi siswa pun ikut merasa senang dan merasa dihargai keberadaannya.
3. Presentation, tahap ini merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar, karena di sini guru sudah tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk pada proses telling, showing, dan doing. Proses tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang mereka dapatkan. Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Mohammad Syafe’I yaitu bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keterampilan atau yang lebih dikenal dengan istilah 3 H, yaitu: Head, Heart, dan Hand. Apalagi jika kompetensinya memasuki wilayah afektif dan psikomotor, strategi pembelajaran yang menekankan pada doing atau hand menjadi sangat penting, karena penerimaan, tanggapan dan penanaman nilai akan otomatis berjalan dalam proses belajar mengajar. Semakin bervariasi strategi pembelajaran yang digunakan, semakin baik proses dan hasil yang dicapai, karena tidak menjadikan siswa jenuh, melainkan mengantarkan mereka menikmati proses pembelajaran dengan suasana asyik dan menyenangkan.
4. Exercise, yakni suatu proses untuk menberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan rencana pembelajaran tersebut dengan baik melalui scenario yang sistematis. Misalnya untuk sains bias dilakukan praktek di laboratorium, untuk bahasa, membaca al-Qur’an, mengkafani mayat biasa dilakukan di kelas, jika tidak, sulit bagi guru untuk memberikan pengalaman-pengalaman manipulatif melalui berbagai praktikum di sekolah. Disamping itu pula guru harus mempersiapkan perencanaan pengajaran bukan hanya bahan ajar saja, tetapi pengalaman belajar siswa yang harus diberikan lewat peragaan-peragaan, bermain peran dan sejenisnya yang harus ditata berdasarkan alokasi waktu antara penjelasan, asignment (tugas-tugas), peragaan dan lain sebagainya.
5. Summary, dimaksudkan untuk memperkuat apa yang telah mereka pahami dalam proses pembelajaran. Hal ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan bahkan mungkin guru tidak pernah membuat summary (kesimpulan) dari apa yang telah mereka ajarkan.
4. Kelemahan model pembelajaran ROPERS
Kelemahan dari model yang dikemukakan Huns ini ialah tidak mencantumkan proses evaluasi. Yang mana proses ini sebenarnya merupakan kegiatan yang penting dilakukan, selain untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa juga dapat dijadikan infut bagi guru guna perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya (Anonim).
Masyarakat Desa Nelayan "Lamalera"
Perjalanan menuju desa nelayan itu sangat jauh. Melewati pegunungan di tengah Pulau. Lamalera memang terletak di sisi balik Lewoleba.
Hutan, jurang , perkebunan jagung , belukar menjadi pemandangan dikiri kanan. Truk harus perlahan berjalan terombang ambing karena jalanan buruk yang kadang hanya tanah keras dan batu batuan. Untung saat ini bukan dalam musim hujan.
Kadang melewati beberapa desa dengan jalanan aspal, sebelum kembali memasuki jalanan buruk. Setelah hampir 4 jam, truk tiba di Lamalera. Desa Nelayan yang hanya dihuni sekitar 3000 orang ini terletak di sebuah teluk di lereng kaki bukit yang menjorok ke laut.
“ Baleo , Baleo “ demikian suara teriakan warga ketika melihat ikan paus di laut lepas. Suara bersambung bersahut sahutan. Anak anak kecil dan warga berlarian ke pantai. Sementara para awak paledang – kapal pemburu paus – bergegas mengeluarkan kapalnya dari garasi beratap jerami tepat di bibir pantai.
Tradisi menangkap ikan paus bagi warga Lamalera sudah turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Selain paus mereka juga memburu ikan pari , manta dan lumba lumba. Ketika bangsa portugis datang menyebarkan agama Katolik, tradisi ini sudah dijumpai disana. Perburuan ikan paus disana bukan merupakan industri dan hanya untuk konsumsi sehari hari. Jadi jika sudah cukup, mereka tidak akan memburu paus yang lewat.
Kegiatan mereka dikategorikan aboriginal whaling, seperti suku suku Eskimo atau beberapa suku Indian Kanada atau Russia. Bahkan disini lebih primitif karena tidak menggunakan boat atau senapan harpun.
Paus yang diburu hanya jenis sperm whale yang panjangnya berkisar 12 - 20 meter dan sering muncul di perairan Lembata.
Umumnya sepanjang tahun mereka bisa saja berburu. Namun secara resmi musim berburu dimulai dengan ritual pada tanggal 1 Mei, dimana para tetua adat melakukan upacara di gunung gunung dan melakukan arak arakan menuju desa nelayan Lamalera. Babi dipotong untuk melengkapi pesta ini.
Pemburu Paus copyAPerburuan paus di Lamalera memakai sistem giliran, setiap waktu berganti ganti paledang yang melaut. Ada sekitar 15 marga / keluarga di Lamalera yang masing masing memiliki Paledang yang diberi nama sendiri sendiri.
Hari ini jatah diberikan kepada Paledang “ Karunia Ilahi “
Para awak kapal mendayung sekuat tenaga menuju sasaran sambil menyaandakan Hilibe , teriakan pembakar semangat.
Juru pandu atau asisten Lamafa memberi aba aba kepada lamafa untuk bersiap siap dengan tombaknya. Untuk berburu ikan paus menggunakan tombak yang berbeda dengan yang digunakan untuk ikan pari atau manta.
Pertempuran laut adalah perjuangan hidup dan mati. Juru tikam atau Lamafa meloncat dengan mengenggam erat tombak yang terhunus. Dengan segenap daya dan kekuatan ia menghujamkan tombak di ikan paus.
Hewan yang kesakitan ini akan meronta dan mengibaskan ekornya. Banyak kasus kematian misalnya Lamafa tertimpa hempasan ekor paus yang berat, atau dia terbelit tali yang menempel di tombak dan dibawa paus ke dasar laut.
Jika paus mengamuk bisa membalikan paledang dan seluruh isi kapalnya.
Setelah menancapkan tombak, lamafa akan berenang menuju paledang dan mengambil tombak lainnya. Ia kembali melompat dan menancapkan ke punggung paus. Selanjutnya perjuangan antara Paus yang meronta ronta dengan Paledang yang menahannya. Jika dibutuhkan, dan paus terlalu kuat, maka paledang paledang lain akan datang membantu.
Begitu paus menyerah maka seluruh awak kapal berteriak ‘ Hirkae ‘ dan paus ditarik ke pantai. Selama perjalanan menuju pantai , Lamafa terus menghujamkan pisau atau parangnya ke badan paus yang tergeret di sisi kapal. Ini untuk membuat paus cepat mati karena kehabisan darah. Cairan merah muda memenuhi laut yang biru pekat.
Memang terlihat kejam. Tapi mereka para nelayan Lamalera membutuhkan untuk hidup. Hari ini Saul, sang Lamafa mengenakan kalung rosario – kalung suci salib bagai lambang penghormatan terhadap Bunda Maria – yang dipercaya akan melindunginya dalam tugasnya.
Daging paus memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat Lamalera. Ada sistem sosial yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat,bahwa daging paus harus di bagi ke seluruh penduduk desa. Jadi tidak hanya mereka yang menangkapnya.
Pola pembagiannya adalah. Ikan dibagi menjadi 3 potongan besar, yang akan menjadi jatah tuan tanah, awak perahu dan suku pemilik perahu.
Tuan tanah adalah sesepuh , tetua adat dan penduduk asli Lamalera mendapat jatah kepala ikan. Sisanya perut dan ekor untuk golongan lainnya. Tahap selanjutnya masing masing potongan dibagi lagi sesuai kontribusi dan peran masing masing orang dalam proses perburuan. Setelah itu ,mereka lalu akan membaginya kepada sanak saudara atau tetangga disebelah rumahnya tanpa kecuali.
Selain daging, masyarakat Lamalera memanfaatkan minyak paus untuk bahan bakar lampu. Mengingat listrik masih menjadi sesuatu yang langka di desa ini. Umumnya listrik menyala setelah jam 6 sore, itupun terbatas.
Di atas pegunungan ada desa yang dinamakan Wulandoni, disana setiap hari Sabtu sering dilakukan pasar barter. Banyak pendatang membawa barang barang seperti jagung, pisang sampai bahan bahan kebutuhan rumah tangga yang ditukarkan dengan daging paus.
Masyarakat Lamalera percaya dengan lautan yang menjaganya. Mereka menganggap sakral perburuan ini. Mereka menghormati teluk yang terhampar di depannya. Pembuatan kapal paledang juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Seperti jenis kayu yang dipakai, dan pantangan menggunakan paku un
"Tetapkan Tujuan Hidup"
Ditulis oleh: Anne Ahira
Anda,
"Without goals, and plans to reach them, you are
like a ship that sail with no destination" --
(Fritzhugh Dodson)
Itulah perumpamaan bagi orang yang tidak punya
tujuan dalam hidupnya.
Banyak orang melakoni perannya, tapi tidak tahu
arah hidup yang ingin ditujunya. Mereka-reka hidup
adalah apa yang kemudian dilakukannya.
Bila sesuatu hal buruk terjadi, mereka akan berdalih
nasib tak berpihak padanya.
Tidak jarang seseorang baru menyadari tujuan
hidupnya pada usia tua. Sangat disayangkan memang.
Seringkali orang tidak berani melakukan perubahan
dalam hidupnya. Dia hanya menunggu, dan menunggu
adanya perubahan tersebut... hingga akhirnya tujuan
hidupnya tidak tercapai!
Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah
tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah
setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin
dicapai.
Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan
strategi apa yang harus diambil.
4 Cara Yang Bisa Anda Pakai Untuk Menetapkan
Tujuan Hidup:
1. Apa sebenarnya keinginan Anda?
Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya
keinginan Anda untuk beberapa tahun ke depan?
Tidak ada salahnya Anda bermimpi. Anda
tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, tokh tidak
ada biaya yang harus Anda keluarkan untuk
sekedar bermimpi. ;-)
2. Kumpulkan informasi.
Dengan mengumpulkan informasi, Anda
bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.
Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan
yang Anda inginkan, belajarlah dari mereka.
Lakukan apa yang mereka kerjakan!
3. Jangan diam.
Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan
membawa Anda pada impian hidup yang diinginkan!
4. Tingkatkan kemampuan
Jika ada cara yang Anda lakukan terbukti efektif
dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai,
maka alangkah baiknya jika Anda berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan
kinerja agar tujuan hidup Anda lebih cepat tercapai.
Jika keempat hal di atas Anda lakukan secara terus
menerus tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah Anda
akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.
Anda ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas
gambaran kehidupan Anda sendiri. Dan seorang
pemahat yang baik akan selalu memiliki 'planning'
terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang
terbaik.
Dalam hal ini, Anda pun hanya bisa sebesar dan
sebahagia sebagaimana tujuan yang telah Anda
tentukan. Oleh sebab itu, pahatlah diri Anda
sebaik-baiknya!
PERJUANGAN AYAH
Oleh : Dr. Mohd. Hilmi b. Abdullah
pustakahilmi.blogspot.com
pustakahilmi@yahoo.com
(Cerpen ini penulis hadiahkan khusus buat ayahanda tercinta, Ustaz Hj. Abdullah b. Jaafar yang telah kembali ke Rahmatullah pada 16 Julai 2004. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas roh beliau).
“Mama, kenapa mama menangis?”
Aku menuju ke arah mama. Kulihat mama mengenyeh-genyeh mata dengan tangan kirinya. Mata mama kemerah-merahan. Mama segera berhenti menangis setelah melihat aku datang ke arahnya.
“Tak adalah. Mama tak menangis, Man. Cuma mata mama ni masuk bawang”.
Aku melihat ke arah jam yang tergantung di dinding. Walaupun pada ketika itu aku baru berusia sepuluh tahun, aku sudah tahu membaca jam. Aku tahu mama cuba membohongi aku. Mustahil mama sudah menumbuk bawang untuk memasak. Biasanya mama memasak pada jam dua belas tengahari, sedangkan pada masa itu baru pukul sembilan pagi. Tapi aku tidak menyalahkan mama. Aku tahu mama menangis kerana terkenangkan arwah ayah yang baru seminggu meninggal dunia.
“Mama menangis kerana ingat kat ayah kan?”
Aku menghampiri mama. Memeluk dan mencium mama dengan penuh kasih sayang. Mama tidak terdaya untuk menjawab soalanku tadi. Tapi mama menabahkan hatinya, menahan air mata yang sedia keluar pada bila-bila masa sahaja itu.
Bagiku dan adik-adik, hanya mama seorang sahaja sekarang ni tempat kami bergantung. Aku tahu, sebagai anak sulung aku harus menunjukkan contoh yang baik kepada adik-adik. Aku mesti membuktikan kepada mama dan adik-adikku bahawa pemergian ayah tidak sia-sia. Perjuangan ayah adalah suci dan ikhlas. Pengorbanan yang ayah curahkan demi agama tidak dapat dinilai dengan apa jua sekalipun, termasuklah wang ringgit.
Peristiwa yang berlaku hampir lima puluh tahun yang lalu itu masih lagi segar dalam memoriku. Pada malam itu selepas Isyak, sekumpulan lima leleki datang ke rumah untuk menemui ayah. Aku kenal sangat dengan mereka itu kerana sebelum ini pun mereka selalu datang ke rumah. Salah seorang daripadanya dikenali sebagai Datuk Mulus, iaitu pengerusi Parti Bangsa Merdeka (PBM) cawangan kampungku, Kampung Sentosa.
“Ustaz Hassan, kami datang ni nak berbincang dengan ustaz fasal perpaduan orang kampung kita ni”. Datuk Mulus memulakan bicaranya dalam nada yang lembut.
“Datuk, saya tak fikir orang kampung kita sekarang ni sedang berpecah. Apa yang saya nampak, mereka cuma tidak mahu menghadiri majlis-majlis yang dianjurkan oleh PBM”. Ayah menjawab dengan tenang sambil memeluk erat aku diribanya.
“Inilah yang kami tidak setuju ustaz. Sepatutnya perkara ini tidak terjadi”.
“Datuk, saya minta maaf. Terus terang saya ingin katakan, sebab orang-orang saya tidak mahu menghadiri majlis PBM kerana majlis tersebut tidak menepati hukum syarak. Bercampur bebas antara lelaki dan perempuan. Ada majlis tari menari. Kadang-kadang ada menora, wayang kulit, dikir barat yang karut mengarut dan sebagainya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Macam ni mana kami boleh hadir”.
Panjang lebar ayahku memberi penjelasan agar Datuk Mulus dan orang-orangnya berpuas hati. Namun, Datuk Mulus mulai berubah wajah dengan jawapan ayahku itu. Ismail Golok dan Husin Komando yang mengapitnya juga kelihatan tidak senang duduk.
“Begini ajelah ustaz”. Datuk Mulus cuba mengalih topik perbincangan.
“Tujuan kami datang ni untuk merayu agar ustaz kembali menyertai PBM. Saya sedia berundur daripada memimpin cawangan kampung ni kalau ustaz sanggup menerima pencalonan. Bagi kami hanya inilah sahaja cara untuk penduduk kampung ini kembali bersatu”.
“Kami dalam PSB (Parti Sejahtera Bangsa) ni Datuk, tidak berjuang untuk mendapatkan kedudukan dalam parti. Kami berjuang semata-mata kerana Allah, untuk menegakkan syariat-Nya dan menjadikan Islam sebagai agama yang memerintah, bukannya agama yang diperintah seperti sekarang ini”.
“Kalau saya jadi pengerusi PBM kampung ni pun, belum tentu saya boleh membawa bersama semua pengikut saya. Ini kerana dalam PSB kami dididik agar melihat terlebih dahulu matlamat penubuhan sesebuah parti politik itu sebelum mengambil keputusan menyertainya”.
“Dalam PBM saya tengok tidak ada fasal yang menyatakan dengan jelas perjuangan PBM adalah untuk menegakkan agama Islam. Yang ada hanyalah untuk mempertahankan Islam sebagai agama rasmi negara. Ini tidak cukup, Datuk”.
Ismail Golok dan Husin Komando kelihatan semakin gelisah. Begitu juga dengan dua orang lagi pengikut Datuk Mulus, iaitu Engku Sudin dan Tok Mat Ali.
“Ustaz, kalau begitulah alasan ustaz, saya tidak fikir orang-orang ustaz tidak boleh bertolak ansur. Saya boleh bawa perkara ini ke peringkat atasan. Yang pentingnya ustaz boleh pujuk orang-orang ustaz supaya beramai-ramai menyertai PBM”.
“Jemput minum Datuk”. Perbincangan terhenti seketika apabila mama datang membawa enam cawan air kopi dan sepinggan keropok lekor yang baru digoreng serta sepiring pencicah. Engku Sudin sempat menjeling ke arah mama sambil meneguk sedikit air kopi yang masih panas itu.
Menurut ayah, Engku Sudin pernah melamar mama pada suatu ketika dulu. Tapi lamarannya ditolak oleh atuk kerana atuk lebih mementingkan ciri-ciri keagamaan dalam memilih menantu. Justeru itu, atuk menolak lamaran Engku Sudin walaupun dia dari golongan diraja dan berharta.
Setelah meminum beberapa teguk air kopi dan mengunyah sepotong keropok lekor, Datuk Mulus menyambung bicaranya dalam usahanya yang terakhir memujuk ayah kembali menyertai PBM.
“Ustaz, saya fikir perjuangan ustaz dalam PSB tidak akan ke mana. Cuba ustaz fikir, peratus umat Islam di negara ini hanyalah 55% sahaja berbanding dengan bukan Islam. Jadi, kalau umat Islam berpecah belah, macam mana orang Islam boleh memerintah negara ini?”.
“Lagipun ustaz, saya tidak fikir orang bukan Islam boleh menerima perjuangan PSB. Ini kerana PSB berjuang untuk menegakkan sebuah negara Islam yang tulen di negara ini. Hal ni sudah pasti ditentang habis-habisan oleh orang-orang bukan Islam kerana mereka menganggap pembentukan sebuah negara Islam akan menggugat kebebasan mereka, khususnya dalam hal-hal keagamaan”.
“Selain itu, pemimpin-pemimpin PSB kebanyakannya berkelulusan agama. Mereka saya lihat kurang berkebolehan dalan bidang pentadbiran dan pengurusan. Kalau macam ni, macam mana PSB boleh meyakinkan orang-orang bukan Islam supaya menyokong perjuangan PSB serta memberi kepercayaan untuk memerintah negara ini? Saya fikir, sampai kucing bertanduk pun PSB tidak akan dapat memerintah negara ini, ustaz”.
Ayah menghulurkan sepotong keropok lekor kepadaku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Bagiku, perbincangan antara ayah dengan Datuk Mulus lebih menarik perhatianku berbanding keropok lekor mama tersebut.
Penerangan yang panjang lebar daripada Datuk Mulus itu langsung tidak dapat mengubah pendirian ayah. Sepanjang mendengar ucapan Datuk Mulus tadi ayahku kelihatan tenang dan langsung tidak nampak gelisah untuk menjawab segala persoalan yang ditimbulkan, termasuk sindiran yang memperkecilkan kebolehan golongan yang berpendidikan agama seperti ayah.
“Macam nilah Datuk. Kami menyertai PSB atas dasar kepercayaan bahawa Islam adalah satu-satunya agama yang menyentuh seluruh kehidupan manusia, bermula dari sekecil-kecil perkara seperti adab masuk tandas sehinggalah kepada urusan memerintah negara”.
“Berapa peratus umat Islam di negara ini bukan menjadi keutamaan bagi kami, kerana negara Islam Madinah yang diasaskan oleh baginda Rasulullah s.a.w. sendiri pun bukannya terdiri daripada 100% umat Islam, malah terdiri daripada pelbagai etnik yang sebahagian besarnya masih belum beragama Islam ketika negara Islam Madinah baru ditubuhkan”.
“Kami percaya, dengan usaha dakwah yang kami lakukan tanpa mengenal erti penat dan lelah, dan tanpa mengharapkan balasan ganjaran dan wang ringgit, lama kelamaan orang-orang bukan Islam di negara ini akan dapat memahami Islam dengan cara yang betul”.
“Yang menjadi masalahnya Datuk, bukannya orang-orang bukan Islam tetapi orang-orang Islam sendiri. Apabila kita menjelaskan ajaran Islam yang sebenar kepada orang bukan Islam, terdapat pula sebahagian daripada orang Islam sendiri yang sengaja memutarbelitkan fakta sehingga menakutkan orang-orang bukan Islam untuk memeluk agama Islam atau menyokong perjuangan Islam”.
Ketika itu aku melihat muka Datuk Mulus mula kemerah-merahan. Mungkin malu atau marah agaknya. Ismail Golok dan Husin Komando pula saling berpandangan antara satu sama lain. Begitu juga dengan Engku Sudin dan Tok Mat Ali.
“Kalau orang-orang bukan Islam faham tentang Islam, kami yakin mereka tidak ada masalah untuk menyokong kami. Ini kerana pemerintahan yang berasakan Islam memberikan keadilan kepada semua pihak tanpa mengira agama, bangsa, warna kulit dan taraf hidup. Islam juga memastikan kebebasan beragama, membanteras rasuah, judi dan penyalahgunaan kuasa, mementingkan keamanan dan penjagaan alam sekitar serta menjamin hak setiap individu dalam masyarakat”.
“Bagi kami, kalah dalam pilihanraya bukanlah penamat kepada perjuangan kami, Datuk. Yang pentingnya, kami dapat menyampaikan dakwah kepada masyarakat melalui wadah politik. Kami percaya, lambat laun masyarakat pasti akan memberi kepercayaan kepada golongan agama untuk memerintah negara ini. Kami yakin dengan janji Allah dalam surah al-Nur ayat yang ke-55 yang bermaksud :
“Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu bahawa Ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi….”.
“Saya mengaku, sebelum ini saya tersilap kerana menyangka PBM mampu memperjuangkan agama Islam di negara ini. Namun, sepanjang tempoh lima tahun saya menyertai PBM, saya tidak nampak usaha dan komitmen yang bersungguh-sungguh daripada pemimpin-pemimpin tertinggi PBM untuk tujuan tersebut. PBM tidak ubah seperti tali barut penjajah yang setia kepada tuannya”.
“Minta maaf Datuk, saya tidak mahu ditipu dan tertipu untuk kali yang kedua”.
“Abang !”. Perbincangan antara ayah dengan Datuk Mulus tiba-tiba terhenti apabila mama menghulurkan air basuh tangan kepada ayah beserta dengan kain tuala ‘good morning’ sebagai pengelap tangan. Mama kemudian mengambil aku dari riba ayah dan menyuruh aku masuk tidur.
Sebagai anak yang patuh kepada kata-kata orang tua, aku menurut sahaja arahan mama, walaupun aku masih berminat untuk mendengar dialog ayah dengan Datuk Mulus tersebut. Aku masuk ke dalam bilik tidurku dan berpura-pura tidur. Tidak lama kemudian aku terdengar dentuman pintu kereta ditutup. Aku tahu Datuk Mulus dan orang-orangnya sudah bersiap sedia untuk pulang.
Aku membuka sedikit daun pintu jendela bilikku. Sejurus kemudian, aku lihat kereta Volkswagen Datuk Mulus meluru dengan laju meninggalkan rumahku, bagaikan kecewa dengan keputusan perbincangan dengan ayahku sebelum itu. Setelah kereta Volkswagen tersebut hilang dari pandangan, tiba-tiba sahaja aku dikejutkan dengan bunyi tiga das tembakan. Aku percaya ketiga-tiga das tembakan tersebut ditujukan ke arah bahagian hadapan rumahku.
Sebelum aku menutup kembali pintu jendela bilikku, aku sempat melihat sebuah motosikal berkuasa tinggi menghilang dari celah-celah kegelapan malam. Di ruang tamu, aku mendengar mama meraung seperti orang yang terkena histeria. Apabila aku keluar dari bilik, aku lihat mama sudah terkulai layu di atas tikar mengkuang sambil tercungap-cungap menahan keperitan akibat penyakit lelah yang sering kali dihadapinya itu.
Aku cuba mendudukkan mama, tapi apakan daya, kudratku yang masih lemah tidak mampu untuk mengangkat beban yang seberat mama. Mama menyuruh aku pergi melihat ayah di luar rumah. Setibanya aku di muka pintu, jiran-jiran rumahku sudah penuh mengelilingi ayah. Aku lihat ayah tersungkur di hadapan tangga. Bahagian belakang ayah berlumuran darah. Ada yang menangis. Ada yang meraung dan ada yang hanya menitiskan air mata sahaja.
Sambil meraung, aku lihat Makcik Lijah, jiran sebelah rumahku, meluru ke arah ayah. Bagaimanapun, sebelum sempat menyentuh tubuh ayahku, suaminya Pak Su Nor yang berada di bahagian kepala ayahku cepat-cepat memegang isterinya itu sambil berkata :
“Ustaz dah mati. Jangan sentuh dia. Kita tunggu polis datang dulu”.
Serentak dengan itu juga aku lihat Makcik Lijah terkulai layu di pangkuan suaminya, lalu diusung masuk ke dalam rumah. Beberapa orang lagi, terutamanya wanita tua turut tidak dapat menahan perasaan melihat percikan darah yang membasahi tubuh ayahku sehingga ada yang menutup muka, ada yang terduduk, malah ada yang menarik-narik rambutnya, seolah-olah tidak sedarkan diri.
Aku yang pada mulanya ingin mendekatkan diri kepada ayah tiba-tiba terpaku di tengah tangga. Tanpa aku sedari, aku juga turut menitiskan air mata, lalu terduduk di atas tangga. Aku tidak meraung seperti Makcik Lijah itu kerana ayahku mendidik aku sejak kecil lagi agar menjadi seorang yang kuat semangat dan sabar. Aku tahu, bukan kesedihan meratapi kematiannya yang ayahku pinta, tetapi ketabahan meneruskan perjuangan yang diingininya daripadaku.
Pada masa itu juga, Pakcik Karim, sahabat karib ayah, menaiki tangga lalu memegang tanganku.
“Man masuk dalam, pergi tidur. Jangan bimbang, pakcik akan uruskan ayah dan mama Man”.
Ketika Pakcik Karim memimpin tanganku naik ke atas rumah itu, aku dapat mencium bau kesturi yang sangat harum melalui tiupan angin yang memasuki rumahku. Walaupun ketika itu aku masih belum memahami erti perjuangan, jihad dan mati syahid, aku yakin bau kesturi tersebut datangnya dari arah tempat ayahku rebah menyembah bumi. Malah tidak mustahil, bau tersebut datangnya daripada darah-darah yang masih berterusan mengalir membasahi belakang ayahku itu.
Maka benarlah firman Allah Ta‘ala dalam surah Ali Imran, ayat yang ke-169 hingga ayat ke-171 yang bermaksud : “Jangan kamu menyangka bahawa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahawa tidak ada kebimbangan terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan kurnia yang besar daripada Allah, dan bahawa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”.
Walaupun jasad ayahku telah mati, tapi aku percaya roh ayahku masih tetap hidup. Hidup di dalam diri para pengikutnya yang masih tetap setia memperjuangkan yang hak dan menentang kebatilan. Buktinya selepas kematian ayahku, jumlah ahli PSB di kampungku semakin hari semakin bertambah. Semangat perjuangan mereka semakin berkobar-kobar demi menuntut bela di atas kematian ayahku, pemimpin yang mereka sayangi itu.
Walaupun pihak polis gagal mengesan pembunuh ayahku, tapi dari awal lagi aku sudah tahu siapa pembunuh yang sebenarnya. Siapa lagi kalau bukan sifat hasad dengki yang telah sebati dalam diri penyokong-penyokong fanatik PBM. Dengki terhadap ketokohan dan kewibawaan yang ada pada ayahku. Dengki kerana ayahku berjaya membawa sebahagian besar pengikutnya keluar dari PBM. Hanya mereka yang mementingkan periuk nasi dan perut masing-masing sahaja yang masih sanggup menjilat kekotoran yang terdapat dalam PBM.
Kini aku sudah berumur tiga puluh lima tahun. Esok adalah hari ulang tahun ke-25 penubuhan PSB, satu-satunya parti politik yang memperjuangkan Islam yang syumul dan hakiki di negara ini. Esok aku akan dijemput naik ke atas pentas untuk menerima hadiah bagi pihak ayahku.
Walaupun hadiah bukanlah segala-galanya, namun hadiah sekurang-kurangnya memberi rangsangan kepada generasi muda khususnya, agar tidak mudah kecewa atau putus asa dalam perjuangan. Pemberian hadiah kepada mereka yang telah banyak berjasa diharap dapat menyedarkan generasi muda agar menghormati perjuangan mereka yang terdahulu. Semoga generasi muda hari ni mengambil iktibar daripada sejarah hidup generasi yang terdahulu.
Walau apa pun, hadiah yang bakal aku bawa pulang esok pasti tidak setanding dengan hadiah pengorbanan yang telah dicurahkan oleh ayahku kepada agama, bangsa dan negara. Hadiah tersebut tidak mungkin mampu membawa pulang ayahku ke dunia ini lagi. Dan yang pastinya juga, ayahku lebih selesa berada di taman syurga di alam kuburnya sekarang ini.
Minggu, 17 Maret 2013
Mendikbud: PAUD Bukan Tempat Belajar Calistung
DEPOK. Sekali lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan sekolah dasar (SD) tidak boleh memberikan tes baca tulis hitung (calistung) kepada calon murid. Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukanlah tempat bagi anak untuk belajar calistung
Hal itu Mendikbud sampaikan pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Depok, Senin (11/1).
Nuh mengatakan, mengajarkan calistung adalah kewajiban SD, bukan PAUD. Oleh karena itu, anak yang akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai calistung.
“Bila sekolah dasar memberikan tes calistung kepada calon murid, maka anak-anak akan diajari calistung sejak taman kanak-kanak (TK). Jika di TK anak sudah diajari calistung, maka sejak masuk PAUD ia sudah diperkenalkan huruf. Jangan-jangan semenjak di dalam kandungan sudah diminta belajar,” kata Nuh melontarkan canda sembari menggambarkan bahwa tuntutan yang berat kepada anak usia dini akan membuat anak tersebut tertekan.
Masa usia dini, adalah masa anak belajar melalui kegiatan bermain, atau kegiatan yang menyenangkan. Hal ini sering pula diingatkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog di beberapa kali kesempatan.
Lydia yang juga akrab dikenal sebagai Reni Akbar-Hawadi pernah mengungkapkan bahwa memaksakan anak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia belum siap justru akan memberikan pengalaman yang tidak menyenangkan, bahkan akhirnya memunculkan penolakan dari anak.
Meski demikian, mengajarkan calistung kepada anak usia dini boleh saja dilakukan, asalkan anak tersebut memang tertarik dan memiliki kemampuan. Selain itu, metode pengajaran pun tidak boleh meninggalkan prinsip bermain dan menyenangkan.
Akan tetapi, penguasaan calistung seharusnya tidak menjadi fokus pembelajaran, Metode pendekatan di PAUD, kata Reni, tidak hanya didasarkan pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek motorik. Ini karena perkembangan anak usia 0-6 tahun masih terfokus pada aspek motorik, sehingga metode pembelajarannya pun lebih baik menekankan pengembangan soft skill, dan tentunya dengan cara bermain. (Dina Julita/HK)
Langganan:
Postingan (Atom)